Live Suport

    Live Suport CPD

  ilhampatu

  We Accept Payment

payable.gif

 

 
Rinitis Alergika dan Asma PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Administrator   
Wednesday, 12 December 2007
Rinitis alergika merupakan penyakit saluran nafas yang sering dijumpai pada anak, disamping asma dan sinusitis. Sekitar 40% anak pernah mengalami rinitis alergika sampai usianya mencapai  6 tahun. Rinitis alergika merupakan penyakit yang didasari oleh proses inflamasi. Terdapat hubungan yang erat antara saluran nafas bagian atas dan bawah

Hubungan antara rinitis-sinusitis-asma telah lama diketahui sehingga dalam penanganannya pun selalu dikaitkan antara ketiganya. Pada pasien asma sering sekali timbul gejala rinitis seperti pilek (keluarnya cairan dari hidung), gatal, kadang-kadang tersumbat, dan terasa panas pada hidung.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa diagnosis rinitis alergika masih sering misdiagnosis sehingga berdampak pada mismanajemen. Penanganan yang baik pada rinitis alergika akan menurunkan gejala pada sinusitis dan asma.

Perjalanan alamiah rinitis dan asma

Masih sedikit penelitian yang mengemukakan tentang perjalanan alamiah rinitis alergika. Hagy dan Sittipane meneliti pada 903 anak balita yang diikuti selama 23 tahun. Setelah 23 tahun didapatkan hasil bahwa 10,6% menjadi asma dan 43% menjadi rinitis alergika. Dari penelitian tersebut disimpulkan pula bahwa anak dengan rinitis alergika mempunyai risiko 3 kali lebih tinggi dibanding non rinitis untuk menjadi asma. Peneliti lain (Luoma) meneliti pada 154 anak rinitis alergika berusia 3-17 tahun dan diikuti selama 10 tahun. Hasil penelitiannya adalah 15% bebas tanpa rinitis, 50 tetap, dan 20% berkembang menjadi asma. Magnan mendapatkan hasil pada anak rinitis alergi yang mempunyai riwayat asma pada keluarganya 9,8 kali lebih tinggi dibanding pada anak rinitis tanpa riwayat asma pada keluarga.

 
Klasifikasi Rinitis alergika
Klasifikasi rinitis alergika mengalami beberapa perubahan. Dahulu dikenal 2 pembagian yaitu seasonal dan perennial. Seasonal adalah gejala rinitis timbul hanya pada waktu tertentu dan biasanya dihubungkan dengan adanya faktor pencetus polen (serbuk sari), sedangkan perennial dimaksudkan sebagai serangan yang terjadi sepanjang masa (tahunan). Saat ini ARIA mengubah klasifikasi tersebut menjadi tipe intermiten dan persisten. Dikatakan intermiten apabila gejala timbul kurang dari 4 hari seminggu atau lamanya gejala kurang dari 4 minggu. Sedangkan dikatakan persisten apabila gejala lebih dari 4 hari perminggu dan lamanya lebih dari 4 minggu.
Selain klasifikasi di atas, juga dibedakan jenis serangannya yaitu mild (ringan) dan moderate-severe (sedang-berat).
Dikatakan mild (ringan) apabila meskipun terdapat gejala rinitis, aktivitas sehari-hari, tidur, dan pekerjaannya tidak terganggu. Sedangkan dikatakan sedang berat (moderate-severe) apabila terdapat salah satu atau lebih keadaan berikut seperti aktivitas abnormal, gangguan tidur, gangguan bekerja.
Mengenai asma pada anak, UKK Pulmonologi PP IDAI telah membuat Konsensus Penanganan Asma Anak (KNAA). Pada KNAA klasifikasi penyakit asma dibagi dalam asma episodik jarang, episodik sering, dan asma persisten. Dasar pembagian tersebut adalah frekuensi serangan, lamanya serangan, aktivitas di luar serangan, gangguan saat tidur, pemeriksaan penunjang, dsb (lihat lampiran 1). Sedangkan pembagian serangan asma dibagi menjadi serangan asma ringan, sedang, dan berat (lihat lampiran 2).

 
Tatalaksana
Prinsip penatalaksanaan rinitis dan asma hampir sama yaitu terdiri dari pendidikan keluarga, penghindaran (avoidance) terhadap pencetus, dan medikamentosa. Dalam hal pendidikan dan penghindaran terhadap pencetus dapat dikatakan sama aplikasinya baik pada rinitis maupun asma. Kedua hal tersebut berlaku baik pada rinitis tipe intermiten maupun persisten demikian pula pada klasifikasi asma yaitu asma episosdik jarang, episodik sering, dan asma persisten. Kedua cara di atas mudah untuk dikatakan namun sangat sulit untuk dilaksanakan.
 
Pendidikan pasien dan keluarga
Pasien (bila memungkinkan) dan keluarga harus mendapat penjelasan yang memadai mengenai penyakit yang diderita baik rinitis alergika maupun asma. Mereka harus mengetahui apa yang dimaksud dengan rinitis atau asma, gejalanya, faktor risiko atau pencetus, kapan harus mencari pertolongan, tatalaksana dan prognosis penyakitnya. Hal ini penting untuk tatalaksana jangka panjang. Pasien atau keluarganya mengetahui cara penghindaran, cara menggunakan obat dsb.

 
Avoidance terhadap pencetus

Telah banyak diketahui bahwa gejala rintis alergika maupun asma akan timbul bila ada faktor pencetusnya. Beberapa faktor pencetus yang dapat diidentifikasikan adalah polen, debu rumah, “bulu” binatang, asap rokok, makanan yang mengandung zat pewarna, zat pengawet, maupun stres atau faktor emosi. Dengan mengetahui faktor pencetus dan upaya untuk menghindarinya, maka tatalaksana rinitis atau asma dapat lebih baik. Namun sekali lagi perlu diingatkan bahwa hal ini mudah untuk diterangkan, namun sangat sulit dilaksanakan.

 
Medikamentosa

Rinitis Alergika
Pada rinitis alergika dikenal beberapa macam obat yang sering digunakan yaitu H-1 antihistamin, dekongestan, kromolin, dan kortikosteroid.
Antihistamin yang beredar saat ini ada dua jenis yaitu generasi pertama dan generasi kedua. Penggunaan antihistamin generasi pertama perlu dipertimbangkan karena efek perbaikannya minimal serta menimbulkan efek sedasi dan antikolinergik. Mekanismenya adalah dengan cara memblok reseptor H1. Baik generasi pertama maupun kedua  kurang efektif terhadap kongesti (sumbatan) nasal.
Dekongestan termasuk ke dalam kelompok obat simpatomimetik, efektif terhadap kongesti nasal. Penggabungan dengan obat anti histmain lebih efektif dibanding dekongestan sendiri. Hal yang perlu diperhatikan adalah efek rebound phenomen apabila diberikan selama lebih dari 10 hari.
Mekanisme obat kromolin belum jelas benar. Biasa diberikan dalam bentuk semprot,dengan efek samping yang minimal. Bila digunakan dalam waktu singkat efektifitasnya rendah.

 
Kortikosteroid 

Penggunaan kortikosteroid pada rinitis ada dalam 2 bentuk yaitu oral dan spray (intranasal). Penggunaan dalam bentuk oral cukup efektif tetapi pada anak harus berhati-hati karena efek samping yang mungkin timbul. Telah lama diketahui bahwa penggunaan kortikosteroid oral yang lama akan menyebabkan gangguan tumbuh kembang pada anak. Hal inilah yang perlu dipertimbangkan dalam pemberian oral, sehingga penggunaannya harus selektif. Penggunaannya masih diperbolehkan apabila serangannya cukup berat sehingga pemberian intranasal tidak memadai.
Kortikosteroid intranasal mempunyai peran yang cukup baik pada pengobatan rinitis alergika. Ada 2 efek kortikosteroid intranasal yaitu menurunkan pelepasan sel mediator inflamasi dan diminishing inflammatory cell inflow yang akan mengurangi hiperresponsiv bronkus. Dalam hal mengendalikan kongesti nasal, dan penurunan produksi mukus, kortikosteroid intranasal lebih baik dibandingkan dengan antihistamin, dekongestan, dan kromolin. Penggunaan kortikosteroid intranasal yang lama tidak menyebabkan gangguan pertumbuhan karena diberikan dalam dosis yang sangat kecil. Efek samping lokal pada pemberian intranasal pernah dilaporkan yaitu epistaksis, rasa “terbakar” di hidung, dan gatal.
Saat ini kortikosteroid merupakan pengobatan lini pertama (first-line treatment) untuk rinitis alergika. Mekanismenya adalah menghambat sekresi sitokin dan infiltrasi sel-sel yang berperan dalam proses  inflamasi seperti eosinofil dan netrofil.

 

ARIA merekomendasikan penggunaan obat-obatan pada rinitis sebagai berikut:

·         Rinitis  intermiten, gejala ringan: H1- antihistamin oral

·         Rinitis intermitent, gejala sedang-berat: intranasal kortikosteroid. Jika dibutuhkan setelah pengobatan 1 minggu dapat diberikan H-1 antihistamin oral dan atau kortikosteroid oral jangka pendek (short course)

·         Rinitis persisten, gejala ringan: H-1 antihistamin oral atau dosis rendah kortikosteroid intranasala

·         Rinitis persisten, gejala sedang-berat: Kortikosteroid intranasal. Jika gejala berat tambahkan H1-aantihistamin oral dan atau kortikosteroid oral short-course.
 

Beberapa pakar mengingatkan bahwa dalam memilih sediaan kortikosteroid intranasal perlu diperhatikan selain efektifitasnya juga bioavailabilitasnya. Bioavailabilitas yang rendah seharusnya merupakan pilihan utama tetapi yang juga harus menjadi pertimbangan adalah masalah harga (cost). Secara garis besar dalam menentukan jenis kortikosteroid intranasal perlu diprtimbangkan efektifitas, bioavailabilitas, efek samping, dan faktor harga. 
Selain hal di atas, ARIA merekomendasikan bila terdapat gejala pada mata (keterlibatan pada mata) maka dapat dianjurkan pemberian H-1 bloker oral/intraokuler, atau kromolin intraokuler.
 

Asma

Pada asma anak, peran kortikosteroid topikal (inhaler, dry powder) cukup besar. Apabila mengacu pada KNAA maka pada asma episodik sering dan asma persisten kortikosteroid topikal menjadi pilihan utama yang harus diberikan.

Pada asma episodik sering, dosis yang diberikan adalah dosis rendah. Bila dengan dosis rendah tidak mampu mengendalikan, maka dosis tetap sama tetapi diberikan  obat lain sebagai tambahan antara lain b-2 agonis kerja panjang, atau  antileukotrien, atau teofilin lepas lambat. Pilihan lain adalah meningkatkan dosis kortikosteroid dosis normal.

Bila dengan kortikosteroid dosis normal pun tidak dapat terkendali, maka dosis ditingkatkan menjadi dosis tinggi (800ug). Pada asma persisten biasanya diberikan kortiksteroid topikal dosis tinggi. Bila dengan dosis tinggi juga tidak mampu baru diberikan kortikosteroid oral dengan terpaksa dan dalam pengawasan yang sangat ketat.

Pada saat serangan, peran kortikosteroid topikal belum mempunyai tempat dalam mengatasi serangan. Pada serangan ringan dan sedang tidak perlu diberikan kortikosteroid topikal. Pada serangan berat pernah dilaporkan keberhasilan penggunaan kortikosteroid topikal tetapi dengan dosis yang sangat tinggi (1600ug). Keberhasilan ini sama dengan bila dibandingkan dengan pemberian per oral.Pada serangan asma jenis kortikosteroid yang diberikan adalah dalam bentuk oral pada serangan sedang atau injeksi (IM,IV) pada serangan berat.
Pemutakhiran Terakhir ( Wednesday, 12 December 2007 )
 
< Sebelumnya

Event Calender

September 2010

SunMonTueWedThuFriSat
01020304
05060708091011
12131415161718
19202122232425
2627282930

Majalah Dokter Indonesia

Sembilan Langkah Cegah Keguguran

KEGUGURAN umumnya disebabkan oleh ketidaknormalan kromosom (genetik) serta faktor fisik lain di luar kontrol manusia. Akan tetapi, keguguran bisa juga dipicu oleh faktor-faktor yang sebenarnya...
Selengkapnya

Artikel Lainya