| Tatalaksana Asma Jangka Panjang Pada Anak |
|
|
|
| Ditulis Oleh Administrator | |
| Wednesday, 12 December 2007 | |
|
Selama kurun waktu yang
berlalu telah terjadi perubahan pada patogenesis asma. Asma dahulu diyakini sebagai suatu proses yang disebabkan oleh karena bronkospasme
dan diobati dengan obat bronkodilator, kini asma diketahui sebagai keadaan yang
disebabkan oleh reaksi inflamasi kronik
Sehingga obat antiinflamasi
dianjurkan diberikan pada asma, kecuali pada asma yang sangat ringan.
Asma pada masa kanak-kanak sebenarnya
dapat dikendalikan , walaupun tidak semuanya dapat disembuhkan. Pada
kenyataannya, sebagian besar asma masih “under-diagnosed” dan “under-treated”.
Sebaliknya di beberapa negara maju, asma ringan sering diberi pengobatan yang
berlebihan.
Penanganan asma seyogyanya
disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Tujuan penatalaksanaan asma
adalah untuk memungkinkan anak dapat tumbuh dan berkembang serta melakukan
aktivitas secara optimal sesuai dengan usianya. Penanganan asma harus
berdasarkan pengetahuan tentang anatomi, fisiologi serta imunopatologi asma.
Selanjutnya harus dipahami juga bagaimana perjalanan penyakit asma,
faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya asma, serta farmakokinetik
obat-obatan asma yang dipergunakan, sehingga para dokter dapat memberikan
petunjuk yang benar kepada penderita asma dan keluarganya.
Tatalaksana asma jangka
panjang pada anak bertujuan untuk
mencegah terjadinya serangan asma seminimal mungkin sehingga memungkinkan anak
dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan usianya. Serangan
asma biasanya mencerminkan kegagalan pencegahan asma, kegagalan tatalaksana
asma jangka panjang dan kegagalan penghindaran dari faktor pencetus.
Pengetahuan tentang patologi,
patofisiologi, dan imunologi asma telah
berkembang sangat pesat, khususnya untuk asma pada orang dewasa dan anak besar.
Pada anak kecil dan bayi,
mekanisme dasar perkembangan penyakit ini masih belum diketahui dengan pasti.
Bayi dan balita yang mengalami mengi saat terkena infeksi saluran napas akut, banyak yang tidak berkembang menjadi asma
saat dewasanya.
Walaupun banyak hal yang berkaitan dengan asma telah
terungkap namun ternyata hingga saat ini, secara keseluruhan asma masih
merupakan misteri. Akibat ketidakjelasan tadi, definisi asma pada anak sulit
untuk dirumuskan, sehingga untuk menyusun diagnosis dan tatalaksana yang
Untuk
anak-anak, GINA tidak dapat sepenuhnya diterapkan, sehingga Pediatric Asthma
Consensus Group dalam pertemuan pada
bulan Maret 1995 mengeluarkan
Konsensus
Internasional III Penanggulangan Asma Anak (selanjutnya disebut Konsensus
Internasional ) yang dipublikasikan pada tahun 1998. . Selain GINA dan
Konsensus Internasional, banyak negara yang mempunyai konsensus nasional di
negara masing-masing, misalnya Konsensus
Di Indonesia sudah ada
Konsensus Nasional Asma Anak (KNAA) yang disusun oleh Unit Kerja Koordinasi
Pulmonologi Pengurus Pusat IDAI pada bulan Desember 1994 di Jakarta dan
ditetapkan dalam KONIKA (Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak) X di Bukitinggi
pada bulan Juni 1996. Pada acara
Simposium Nasional Respirologi Anak 11-12 Desember 1998 di Bandung, materi
tersebut ditinjau ulang . Selanjutnya pada pertemuan UKK Pulmonologi IDAI 12-13
Desember 1998, materi ini mendapat masukan dari peserta pertemuan . Berikutnya
pada pertemuan UKK Pulmonologi yang menyertai Simposium Nasional Respirologi
Anak II di Jakarta Agustus 2000, Respirologi Anak III di Solo Agustus 2001
materi KNAA kembali ditinjau ulang. Terakhir dalam pertemuan UKK Pulmonologi
IDAI di Bandung Mei 2002 kembali ditinjau ulang, dan kemudian disahkan dalam
KONIKA Bali 2002. Karena selama ini pada kenyataannya KNAA menjadi acuan dalam
tatalaksana asma anak di
Batasan
di atas memang sangat lengkap, namun dalam penerapan klinis untuk anak tidak
praktis. Agaknya karena itu para perumus Konsensus Internasional dalam
pernyataan ketiganya tetap menggunakan definisi lama yaitu: Mengi berulang
dan/atau batuk persisten dalam asma adalah yang paling mungkin, sedangkan sebab
lain yang lebih jarang telah disingkirkan.
Pedoman
Nasional Asma Anak juga menggunakan batasan yang praktis dalam bentuk batasan
operasional yaitu mengi berulang dan/atau batuk persisten dengan karakteristik
sebagai berikut: timbul secara episodik, cenderung pada malam hari/dini hari
(nokturnal), musiman, adanya faktor pencetus diantaranya aktivitas fisis, dan
bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan, serta adanya
riwayat asma atau atopi lain pada pasien/keluarganya.
Pengertian kronik dan
berulang mengacu pada kesepakatan UKK Pulmologi pada KONIKA V di Medan tahun
1981 tentang Batuk Kronik Berulang (BKB) yaitu batuk yang berlangsung lebih
dari 14 hari dan/atau tiga atau lebih episode dalam waktu 3 bulan
berturut-turut.
EPIDEMIOLOGI ASMA
Dilaporkan bahwa sejak dua dekade terakhir prevalensi
asma meningkat, baik pada anak-anak
maupun dewasa. Di negara-negara maju, peningkatan berkaitan dengan polusi udara
dari industri maupun otomotif, interior rumah,
Terdapat variasi prevalensi, angka perawatan, dan
mortalitas asma, baik regional maupun lokal,
perbedaaan tersebut belum jelas apakah prevalensi memang berbeda atau
karena perbedaan kriteria diagnosis.
Untuk mengatasi hal tersebut telah dilaksanakan penelitian multisenter
di beberapa negara menggunakan definisi asma yang sama, dengan menggunakan
kuesioner standart. Salah satu penelitian multisenter yang dilaksanakan yaitu International Study of Asthma and Allergy in
Children (ISAAC)(5).
Telah dilakukan penelitian ISAAC fase I pada tahun
1996, yang dilanjutkan dengan ISAAC fase III pada tahun 2002. Penelitian ISAAC
fase I telah dilaksanakan di 56 negara, meliputi 155 senter, pada anak usia 6 -
7 tahun dan 13 - 14 tahun. Penelitian ISAAC menggunakan kuesioner standar
dengan pertanyaan:”Have you (your child) had wheezing or whistling in the chest in the last 12 months?”
Untuk mengelompokkan dalam diagnosis asma bila jawabannya “Ya”. Pada anak usia
13 – 14 tahun selain diminta mengisi kuesioner juga diperlihatkan video asma.
Hasilnya ternyata sangat bervariasi. Untuk usia 13 – 14 tahun yang terendah di
Survey mengenai prevalens asma di Eropa telah
dilakukan di 7 negara (Asthma insights
& Reality in
Penelitian mengenai prevalensi asma di
Di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya kunjungan
penderita asma dibawah usia 5 tahun di Instalasi Rawat Darurat pada tahun 1997
adalah 239 anak dari 8994 anak ( 2,6 %), pada tahun 2002 adalah 472 anak dari
14.926 anak ( 3,1 %) ( Data rekam medik IRD RS Dr. Soetomo Surabaya).
Berbagai faktor mempengaruhi tinggi rendahnya prevalens
asma di suatu tempat, antara lain umur, gender, ras, sosio-ekonomi dan faktor
lingkungan. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi prevalensi asma, terjadinya
serangan asma, berat ringannya serangan, derajat asma dan kematian karena
penyakit asma.
PATOGENESIS ASMA
Konsep terkini yaitu asma merupakan suatu proses inflamasi
kronik yang khas, melibatkan dinding saluran respiratorik, menyebabkan
terbatasnya aliran udara dan peningkatan reaktivitas saluran napas.Gambaran
khas adanya inflamasi saluran respiratorik adalah aktivasi eosinofil, sel mast,
makrofag, dan sel limfosit. T pada mukosa dan lumen saluran respiratorik.
Proses inflamasi ini terjadi meskipun
asmanya ringan atau tidak bergejala.
Pada banyak kasus terutama pada anak dan dewasa muda, asma
dihubungkan dengan manifestasi atopi melalui mekanisme IgE-dependent. Pada populasi diperkirakan faktor atopi memberikan
kontribusi pada 40 % penderita asma anak dan dewasa.
Reaksi
imunologik yang timbul akibat paparan dengan alergen pada awalnya menimbulkan
fase sensitisasi. Akibatnya terbentuk Ig E spesifik oleh sel plasma. Ig E
melekat pada Fc reseptor pada membran sel mast dan basofil. Bila ada rangsangan
berikutnya dari alergen serupa, akan timbul
reaksi asma cepat ( immediate asthma reaction). Terjadi
degranulasi sel mast, dilepaskan mediator-mediator : histamin, leukotrien
C4(LTC4), prostaglandin D2(PGD2), tromboksan A2, tryptase. Mediator-mediator
tersebut menimbulkan spasme otot bronkus, hipersekresi kelenjar, oedema,
peningkatan permeabilitas kapiler, disusul dengan akumulasi sel eosinofil.
Gambaran klinis yang timbul adalah serangan asma akut. Keadaan ini akan segera
pulih kembali( serangan asma hilang) dengan pengobatan.
Setelah 6- 8 jam maka
terjadi proses selanjutnya , disebut reaksi asma lambat (late asthma
reaction). Akibat pengaruh sitokin IL3, IL4, GM-CSF yang diproduksi oleh
sel mast dan sel limfosit T yang teraktivasi, akan mengaktifkan sel-sel radang
: eosinofil, basofil, monosit dan limfosit.
Sedikitnya ada dua jenis T-helper (Th),
limfosit subtipe CD4+ telah dikenal profilnya dalam produksi
sitokin. Meskipun kedua jenis limfosit T mensekresi IL – 3 dan granulocyte – macrophage colony –
stimulating factor (GM – CSF), Thl terutama memproduksi IL – 2, IF gamma
dan TNF beta sedangkan Th2 terutama memproduksi sitokin yang terlibat dalam
asma, yaitu IL – 4, IL – 5, IL – 9, IL – 13, dan IL – 16. Sitokin yang dihasilkan oleh Th1 bertanggung jawab atas
terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe lambat . Masing –masing
sel radang berkemampuan mengeluarkan mediator inflamasi. Eosinofil memproduksi
LTC4, Eosinophil Peroxidase (EPX), Eosinophil Cathion Protein (ECP) dan Major
Basic Protein (MBP). Mediator-mediator tersebut merupakan mediator inflamasi
yang menimbulkan kerusakan jaringan. Sel basofil mensekresi histamin, LTC4,
PGD2. Mediator tersebut dapat menimbulkan bronkospasme. Sel makrofag mensekresi
IL8, platelet activating factor (PAF), regulated upon activation novel T cell
expression and presumably secreted (RANTES) .Semua mediator diatas merupakan
mediator inflamasi yang meningkatkan proses keradangan, mempertahankan proses
inflamasi. Mediator inlamasi tersebut akan membuat kepekaan bronkus berlebihan,
sehingga bronkus mudah konstriksi, kerusakan epitel, penebalan membrana basalis
dan terjadi peningkatan permeabilitas bila ada rangsangan spesifik maupun non
spesifik.Secara klinis, gejala asma menjadi menetap, penderita akan lebih peka
terhadap rangsangan. Kerusakan jaringan akan menjadi irreversibel bila
paparan berlangsung terus dan penatalaksanaan kurang adekuat.
Sejalan
dengan proses inflamasi kronik, perlukaan epitel bronkus merangsang proses
reparasi saluran respiratorik yang menghasilkan perubahan struktural dan
fungsional yang menyimpang pada saluran respiratorik yang dikenal dengan
istilah remodeling atau repair. Kerusakan epitel bronkus adalah akibat
dilepaskannya sitokin dari sel inflamasi seperti eosinofil. Kini dibuktikan
bahwa otot polos saluran napas juga memproduksi sitokin dan kemokin seperti
eotaxin, RANTES, GM-CSF dan IL-5, juga faktor pertumbuhan dan mediator
lipid, sehingga mengakibatkan
penumpukan kolagen di lamina propia.
Pada proses remodeling yang berperan adalah sitokin
IL4, TGF beta dan Eosinophil Growth Factor (EGF). TGF beta merangsang sel
fibroblast berproliferasi, epitel mengalami hiperplasia, pembentukan kolagen
bertambah. Akibat proses remodeling
tersebut terjadi pelepasan epitel yang rusak, jaringan membrana basalis mukosa
menebal (pseudothickening), hiperplasia kelenjar, edema submukosa, infiltrasi
sel radang dan hiperplasia otot. Perubahan semacam ini tidak memberikan
perbaikan klinis, tetapi mengakibatkan penyempitan lumen bronkus yang persisten
dan memberikan gambaran klinis asma kronis.
Menurut paradigma yang lampau, proses
remodeling terjadi akibat kerusakan
epitel bronkus yang disebabkan oleh proses inflamasi kronis. Sehingga apabila
obat antiinflamasi tidak diberikan sedini mungkin sebagai profilaksis,
maka inflamasi berlangsung terus dan obstruksi
saluran napas menjadi irreversibel dan proses remodeling bertambah hebat. Pada
penelitian terhadap anak dengan riwayat
keluarga atopi yang belum bermanifestasi sebagai asma ternyata ditemukan infiltrasi eosinofil dan penebalan lamina retikularis. Hal ini
mencurigakan bahwa proses remodeling
telah terjadi sebelum atau bersamaan dengan proses inflamasi. Apabila
intervensi dini diberikan segera setelah gejala asma timbul, bisa jadi tindakan
kita telah terlambat untuk mencegah terjadinya proses remodeling
PATOFISIOLOGI
ASMA
Inflamasi
saluran napas yang ditemukan pada pasien asma diyakini merupakan hal yang
mendasari gangguan fungsi : obstruksi saluran napas menyebabkan hambatan aliran
udara yang dapat kembali secara spontan atau setelah pengobatan. Perubahan
fungsional yang dihubungkan dengan gejala khas pada asma ; batuk, sesak dan wheezing dan disertai hipereaktivitas saluran
respiratorik terhadap berbagai rangsangan. Batuk sangat mungkin disebabkan oleh
stimulasi saraf sensoris pada saluran respiratorik oleh mediator inflamasi dan
terutama pada anak, batuk berulang bisa jadi merupakan satu-satunya gejala asma
yang ditemukan.
Diagnosis
Wheezing berulang dan / atau
batuk kronik berulang merupakan titik awal untuk menegakkan diagnosis. Termasuk
yang perlu dipertimbangkan kemungkinan asma adalah anak-anak yang hanya
menunjukkan batuk sebagai satu-satunya tanda, dan pada saat diperiksa tanda wheezing, sesak dan lain-lain sedang
tidak timbul.
Sehubungan
dengan kesulitan mendiagnosis asma pada anak kecil., khususnya anak di bawah 3
tahun, respons yang baik terhadap obat bronkodilator dan steroid sistemik (5
hari) dan dengan penyingkiran penyakit lain diagnosis asma menjadi lebih
definitif. Untuk anak yang sudah besar (>6 tahun) pemeriksaan faal paru
sebaiknya dilakukan. Uji fungsi paru yang sederhana dengan peak flow meter, atau yang lebih lengkap dengan spirometer. Uji
provokasi bronkus dengan histamin, metakolin, latihan (exercise), udara kering dan dingin atau dengan NaCl hipertonis,
sangat menunjang diagnosis. Pemeriksaan ini berguna untuk mendukung diagnosis
asma anak melalui 3 cara yaitu didapatkannya:
1. Variabilitas pada PFR atau FEVI > 15 %
Variablitas harian adalah perbedaan nilai (peningkatan / penurunan) hasil
PFR dalam satu hari. Penilaian yang baik dapat dilakukan dengan variabilitas
mingguan yang pemeriksaan berlangsung > 2 minggu.
2. Reversibilitas pada PFR atau FEVI > 15%
Reversibilitas adalah perbedaan nilai (peningkatan) PFR atau FEVI setelah
pemberian inhalasi bronkodilator.
3. Penurunan > 20 % pada FEVI (PD20 atau PC20)
setelah provokasi bronkus dengan metakolin atau histamin.
Penggunaan peak flow meter merupakan
hal yang penting dan perlu diupayakan, karena selain untuk mendukung diagnosis
juga untuk mengetahui keberhasilan tatalaksana asma. Berhubung alat tersebut
tidak selalu ada, maka Lembar Catatan
Harian dapat digunakan sebagai alternatif karena mempunyai korelasi yang
baik dengan faal paru. Lembar Catatan
Harian dapat digunakan dengan atau tanpa pemeriksaan PFR.
Pada
anak dengan gejala dan tanda asma yang jelas, serta respons terhadap pemberian
obat bronkodilator baik sekali, maka tidak perlu pemeriksaan diagnostik lebih
lanjut. Bila respons terhadap obat asma tidak baik, sebelum memikirkan
diagnosis lain, maka perlu dinilai dahulu beberapa hal. Hal yang perlu
dievaluasi adalah apakah penghindaran terhadap pencetus sudah dilakukan, apakah
dosis obat sudah adekuat, cara dan waktu pemberiannya sudah benar, serta
ketaatan pasien baik. Bila semua aspek tersebut sudah dilakukan dengan baik dan
benar. Maka perlu dipikirkan kemungkinan diagnosis bukan asma
Di
Indonesia, tuberkulosis (TB) masih merupakan penyakit yang banyak dijumpai dan
salah satu gejalanya adalah batuk kronik berulang. Oleh karena itu uji
tuberkulin perlu dilakukan baik pada kelompok yang patut diduga asma maupun
yang bukan asma (lihat alur diagnosis asma, lampiran ). Dengan cara tersebut di
atas, maka penyakit tuberkulosis yang mungkin bersamaan dengan asma akan
terdiagnosis dan diterapi. Pasien TB yang memerlukan steroid untuk pengobatan
asmanya, steroid sistemik jangka pendek atau steroid inhalasi tidak akan
memperburuk tuberkulosisnya karena sudah dilindungi dengan obat TB. Menurut
pengamatan di lapangan,sering terjadi overdiagnosis
TB dan underdiagnosis asma,
karena pada pasien anak dengan batuk kronik berulang sering kali yang pertama
kali dipikirkan adalah TB, bukan asma(4).
Berdasakan
alur diagnosis asma anak, setiap anak yang menunjukkan gejala batuk dan / atau wheezing maka diagnosis akhirnya dapat
berupa :
1. Asma
2. Asma dengan penyakit lain
3. Bukan asma
Klasifikasi Derajat Penyakit(4)
Secara
arbitreri PNAA membagi asma anak menjadi 3 derajat penyakit, dengan kriteria
yang lebih lengkap dibandingkan Konsensus Internasional.
Sebagai
perbandingan, GINA membagi derajat penyakit asma menjadi 4, yaitu Asma
Intermiten, Asma Persisten Ringan, Asma Persisten Sedang, dan Asma Persisten
Berat. Dasar pembagiannya adalah gambaran klinis, faal paru dan obat yang
dibutuhkan untuk mengendalikan penyakit. Dalam klasifikasi GINA dipersyaratkan
adanya nilai PEF atau FEVI untuk penilaiannya
Konsensus
Internasional III juga membagi derajat penyakit asma anak berdasarkan keadaan
klinis dan kebutuhan obat menjadi 3, yaitu, Asma episodik jarang yang meliputi
75 % populasi anak asma, Asma episodik sering meliputi 20 % populasi, dan Asma
persisten meliputi 5 % populasi. Klasifikasi asma seperti ini juga dikemukakan
oleh Martin dkk dari
Tujuan Tatalaksana
Tujuan tatalaksana asma anak secara umum adalah untuk
menjamin tercapainya potensi tumbuh kembang anak secara optimal. Secara lebih
rinci tujuan yang ingin dicapai adalah
1. Pasien dapat menjalani aktivitas normalnya, termasuk
bermain dan berolahraga.
2. Sesedikit mungkin angka absensi sekolah.
3. Gejala tidak timbul siang ataupun malam hari.
4. Uji fungsi paru senormal mungkin, tidak ada variasi
diurnal yang mencolok.
5. Kebutuhan obat seminimal mungkin dan tidak ada
serangan.
6. Efek samping obat dapat dicegah agar tidak atau
sesedikit mungkin timbul, terutama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak.
Apabila tujuan ini belum tercapai maka perlu
reevaluasi tatalaksananya.
Asma Episodik Jarang cukup diobati dengan obat pereda berupa
bronkodilator b-agonis hirupan kerja pendek (Short Acting b2-Agonist,
Penggunaan teofilin sebagai bronkodilator makin kurang
perannya dalam tatalaksana asma karena batas keamanannya sempit. Namun
mengingat di
Konsensus Internasional III dan juga pedoman Nasional
Asma Anak seperti terlihat dalam klasifikasi asmanya tidak menganjurkan
pemberian anti inflamasi sebagai obat pengendali untuk asma ringan. Jadi secara
tegas PNAA tidak menganjurkan pemberian pemberian obat controller pada Asma Episodik Jarang. Hal ini sesuai dengan GINA
yang belum perlu memberikan obat controller
pada Asma Intermiten, dan baru memberikannya pada Asma Persisten Ringan
(derajat 2 dari 4) berupa anti-inflamasi yaitu steroid hirupan dosis rendah,
atau kromoglikat hirupan. Dalam alur tatalaksana jangka panjang terlihat bahwa
jika tatalaksana Asma Episodik Jarang sudah adekuat namun responsnya tetap
tidak baik dalam 4-6minggu, maka tatalaksananya berpindah ke Asma Episodik
Sering.
Konig, menemukan bukti bahwa dengan mengikuti panduan
tatalaksana yang lazim, yaitu hanya memberikan bronkodilator tanpa
anti-inflamasi pada Asma Episodik Jarang, ternyata dalam jangka panjang (+8
tahun) pada kelompok tersebut paling sedikit yang mengalami perbaikan derajat
asma. Di lain pihak, Asma Episodik Sering yang mendapat kromoglikat, dan Asma
Persisten yang mendapat steroid hirupan, menunjukkan perbaikan derajat asma
yang lebih besar. Perbaikan yang dimaksud adalah menurunnya derajat asma,
misalnya dari Asma Persisten menjadi Asma Episodik Sering atau Asma Episodik
Jarang, bahkan sampai asmanya asimtomatik.
Jika penggunaan b-agonis hirupan sudah lebih dari 3x perminggu (tanpa
menghitung penggunaan praaktivitas fisis), atau serangan sedang/berat terjadi
lebih dari sekali dalam sebulan, maka penggunaan anti-inflamasi sebagai
pengendali sudah terindikasi. pada awalnya, anti-inflamasi tahap pertama yang
digunakan adalah kromoglikat, dengan dosis minimum 10 mg 2-4 kali perhari. Obat
ini diberikan selama 6-8 minggu, kemudian dievaluasi hasilnya. Jika asma sudah
terkendali, pemeberian kromoglikat dapat dikurangi menjadi 2-3 kali perhari.
Penelitian terakhir, Tasche dkk, mendapatkan hasil bahwa pemberian kromolin
kurang bermanfaat pada terlaksana asma jangka panjang. Dengan dasar tersebut
PNAA revisi terakhir tidak mencantumkan kromolin (kromoglikat dan nedokromil)
sebagai tahap pertama melainkan steroid hirupan dosis rendah sebagai
anti-inflamasi
Tahap pertama obat pengendali adalah pemberian steroid
hirupan dosis rendah yang biasanya cukup efektif. Obat steroid hirupan yang
sudah sering digunakan pada anak adalah budesonid, sehingga digunakan sebagai
standar. Dosis rendah steroid hirupan adalah setara dengan 100-200 ug/hari budesonid (50-100 ug/hari flutikason) untuk anak berusia
kurang dari 12 tahun, dan 200-400 ug/hari
budesonid (100-200 ug/hari
flutikason) untuk anak berusia di atas 12 tahun. Dalam penggunaan beklometason
atau budesonid dengan dosis 100-200 ug/hari,
atau setara flutikason 50-100 ug belum
pernah dilaporkan adanya efek samping jangka panjang.
Sesuai dengan mekanisme dasar asma yaitu inflamasi
kronik, obat pengendali berupa anti-inflamasi membutuhkan waktu untuk
menimbulkan efek terapi. Oleh karena itu penilaian efek terapi dilakuakn
setelah 6-8 minggu, yaitu waktu yang diperlukan untuk mengendalikan
inflamasinya. Setelah pengobatan selama 6-8 minggu dengan steroid hirupan dosis
rendah tidak respons (masih terdapat gejala asma atau atau gangguan tidur atau
aktivitas sehari-hari), maka dilanjutkan dengan tahap kedua (Lampiran 3) yaitu
menaikkan dosis steroid hirupan sampai dengan 400 ug/hari yang termasuk dalam tatalaksana Asma Persisten. Jika
tatalaksana dalam suatu derajat penyakit asma sudah adekuat namun responsnya
tetap tidak baik dalam 6-8 minggu, maka derajat tatalaksanya berpindah ke yang
lebih berat (step-up). Sebaliknya
jika asmanya terkendali dalam 6-8 minggu, maka derajatnya beralih ke yang lebih
ringan (step-down). Bila memungkinkan
steroid hirupan dihentikan penggunaannya.
Sebelum melakukan step-up,
perlu dievaluasi pelaksanaan penghindaran pencetus, cara penggunaan obat,
faktor komorbid yang mempersulit pengendalian asma seperti rintis dan
sinusitis. Telah dibuktikan bahwa penatalaksanaan rintis dan sinusitis secara
optimal dapat memperbaiki asma yang terjadi secara bersamaan.
Cara pemberian steroid hirupan apakah dimulai dari
dosis tinggi ke rendah selama gejala masih terkendali, atau sebaliknya dimulai
dari dosis rendah ke tinggi hingga gejala dapat dikendalikan, tergantung pada
kasusnya. Dalam keadaaan tertentu, khususnya pada anak dengan penyakit berat,
dianjurkan untuk menggunakan dosis tinggi dahulu, disertai steroid oral jangka pendek
(3-5 hari). Selanjutnya dosis steroid hirupan diturunkan sampai dosis terkecil
yang masih optimal.
Dosis steroid hirupan yang masih dianggap aman adalah
setara budesonid 400 ug/hari. Di atas
dilaporkan adanya pengaruh sistemik minimal, sedangkan dengan dosis 800 ug/hari agaknya mulai berpengaruh
terhadap poros HPA (hipotalamus-hipotesis-adrenal) sehingga dapat berdampak
terhadap pertumbuhan. Efek samping steroid hirupan dapat dikurangi dengan
penggunaan alat pemberi jarak berupa perenggang (spacer) yang akan mengurangi deposisi di daerah orofaringeal
sehingga mengurangi absorbsi sistemik dan meningkatkan deposisi obat di paru.
Selain itu untuk mengurangi efek samping steroid hirupan, bila sudah mampu
pasien dianjurkan berkumur dan air kumurannya dibuang setelah menghirup obat.
Setelah pemberian steroid hirupan dosis rendah tidak
mempunyai respons yang baik, diperlukan terapi alternatif pengganti yaitu
meningkatkan steroid yang baik, diperlukan terapi alternatif pengganti yaitu
meningkatkan steroid menjadi dosis medium atau terapi steroid hirupan dosis
rendah ditambah dengan LABA (Long Acting b-2 Agonist) atau ditambahkan Theophylline
Slow Release (TSR) atau ditambahkan Anti-Leukotriene
Receptor (ALTR). Yang dimaksud dosis medium adalah setara dengan 200-400 ug/hari budesonid (100-200 ug/hari flutikason) untuk anak berusia
kurang dari 12 tahun, 400-600 ug/hari
budesonid (200-300 ug/hari
flutikason) untuk anak berusia di atas 12 tahun.
Apabila dengan pengobatan lapis kedua selama 6-8
minggu tetap terdapat gejala asma, maka dapat diberikan alternatif lapis ketiga
yaitu dapat meningkatkan dosis kortikosteroid sampai dengan dosis tinggi, atau
tetap dosis medium ditambahkan dengan LABA, atau TSR, atau ALTR. (Evidence A) yang dimaksud dosis tinggi
adalah setara dengan >400 ug/hari
budesonid (>200 ug/hari
flutikason) untuk anak berusia kurang dari 12 tahun, dan >600 ug/hari budesonid (>300 ug/hari flutikason) untuk anak berusia
di atas 12 tahun.
Penambahan LABA pada steroid hirupan telah banyak
dibuktikan keberhasilannya yaitu dapat memperbaiki FEVI, menurunkan gejala
asmanya, dan memperbaiki kualitas hidupnya. Apabila dosis steroid hirupan sudah
mencapai >800 ug/hari namun tetap
tidak mempunyai respons, maka baru digunakan steroid oral (sistemik). Jadi
penggunaan kortikosteroid oral sebagai controller
(pengendali) adalah jalan terakhir setelah penggunaan steroid hirupan atau
alternatif di atas telah dijalankan. (Evidence
B) Langkah ini diambil hanya bila bahaya dari asmanya lebih besar daripada
bahaya efek samping obat. Untuk steroid oral sebagai dosis awal dapat diberikan
1-2 mg/kgBB/hari. Dosis kemudian diturunkan sampai dosis terkecil yang
diberikan selang hari pada pagi hari. Penggunaan steroid secara sistemik harus
berhati-hati karena mempunyai efek samping yang cukup berat.
Pada pemberian antileukotrien (zafirlukas) pernah
dilaporkan adanya peningkatan enzim hati, oleh sebab itu kelainan hati
merupakan kontraindikasi. Mengenai pemantauan uji fungsi hati pada pemberian
antileukotrien belum ada rekomendasi.
Mengenai obat antihistamin generasi baru non-sedatif
(misalnya ketotifen dan setirizin), penggunaannya dapat dipertimbangkan pada
anak dengan asma tipe rinitis, hanya untuk menanggulangi rinitisnya. Pada saat
ini penggunaan kototifen sebagai obat pengendali (controller) pada asma anak tidak lagi digunakan karena tidak
mempunyai manfaat yang berarti.
Apabila dengan pemberian steroid hirupan dicapai
fungsi paru yang optimal atau perbaikan klinis yang mantap selama 6-8 minggu,
maka dosis steroid dapat dikurangi bertahap hingga dicapai dosis terkecil yang
masih bisa mengendalikan asmanya. Sementara itu penggunaan b-agonis sebagai
obat pereda tetap diteruskan.
Cara pemberian obat asma harus disesuaikan dengan umur
anak karena perbedaan kemampuan menggunanakan alat inhalasi. Dmeikian juga
kemauan anak perlu dipertimbangkan. Lebih dari 50% anak asma tidak dapat
memakai alat hirupan biasa (Metered Dose
Inhaler). Perlu dilakukan pelatihan yang benardan berulang kali. Tabel
berikut memperhatikan anjuran pemakaian alat inhalasi disesuakan dengan
usianya.
Pemakaian alat perenggang (spacer) mengurangi deposisi obat dalam mulut (orofaring), jadi
mengurangi jumlah obat yang akan tertelan sehingga mengurangi efek sistemik.
Sebaliknya deposisi dalam paru lebih baik sehingga didapat efek terapetik yang
baik. (Evidence B) Obat hirupan dalam
bentuk bubuk kering (DPI = Dry Powder
Inhaler) seperti Spinhaler,
Diskhaler, Rotahaler, Turbuhaler, Easyhaler, Twisthaler; memerlukan
inspirasi yang kuat. Umumnya bentuk ini dianjurkan untuk anak usia sekolah.
Sebagian alat bantu yaitu spacer (Volumatic, Nebuhaler,
Aerochamber, Bayhaler, Autohaler) dapat dimodifikasi dengan menggunakan
bekas gelas atau botol minuman, atau menggunakan botol dengan dot yang talah
dipotong untuk anak kecil dan bayi.
Pencegahan dan tindakan dini harus menjadi tujuan
utama dokter, khususnya spesialis anak dalam menangani anak asma. Pengendalian
lingkungan, pemberian ASI eksklusif minimal 4 bulan, penghindaran makanan
berpotensi alergenik, pengurangan pajanan terhadap tungau debu rumah dan
rontokan bulu binatang, telah terbukti mengurangi manifestasi alergi makanan
dan prevalens asma jangka panjang diduga ada tetapi masih dalam penelitian.
Penggunaan antihistamin non-sedatif seperti ketotifen
dan setirizin jangka panjang dilaporkan dapat mencegah terjadinya asma pada
anak dengan dermatitis atopik. Obat-obat di atas tidak bermanfaat sebagai obat
pengendali asma (controller).
Tindakan dini pada asma anak berdasarkan pendapat bahwa keterlambatan pemberian
obat pengendali akan berakibat penyempitan jalan napas yang ireversibel (airway remodeling)
Saat ini telah banyak bukti bahwa alergi merupakan
salah satu faktor penting berkembangnya asma. Paling tidak 75-90% anak asma
balita terbukti mengidap alergi, baik di negara berkembang maupun negara maju.
Atopi merupakan faktor risiko yang nyata untuk menetapnya hiperreaktivitas
bronkus dan gejala asma. Derajat asma yang lebih berat dapat diperkirakan
dengan adanya dermatitis atopik. Terdapat hubungan antara pajanan alergen
dengan sensitisasi. Pajanan yang tinggi berhubungan dengan peningkatan gejala
asma pada anak.
Pengendalian lingkungan harus dilakukan untuk setiap
anak asma. Penghindaran terhadap asap rokok merupakan rekomendasi penting.
Keluarga dengan anak asma dianjurkan tidak memelihara binatang berbulu, seperti
kucing, anjing, burung. Perbaikan ventilasi ruangan, dan penghindaran
kelembaban kamar perlu untuk anak yang sensitif terhadap debu rumah dan
tungaunya.
Perlu ditekankan bahwa anak asma sering kali menderita
rinitis alergika dan/atau sinusitis yang membuat asmanya sukar dikendalikan.
Deteksi dan diagnosis kedua kelainan itu diikuti dengan terapi yang adekuat
akan memperbaiki gejala asmanya.
Prognosis
Beberapa
studi kohort menemukan bahwa banyak bayi dengan wheezing tidak berlanjut menjadi asma pada masa anak dan remajanya.
Proporsi kelompok tersebut berkisar antara 45 hingga 85%, tergantung besarnya
sampel studi, tipe studi kohort, dan lamanya pemantauan. Adanya asma pada orang
tua dan dermatitis atopik pada anak dengan wheezing
merupakan salah satu indikator penting untuk terjadinya asma dikemudian hari.
Apabila terdapat kedua hal tersebut maka kemungkinan menjadi asma lebih besar
atau terdapat salah satu di atas disertai dengan 2 dari 3 keadaan berikut yaitu
eosinofia, rinitis alergika, dan wheezing
yang menetap pada keadaan bukan flu
|
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|


